Penyerangan Polisi Di Masjid Falatehan Diduga Tak Terkait Teroris

Kapolres Bojonegoro Paparkan Kesiapan Pengamanan Arus Mudik dan Balik Kepada Komisi III DPR RI
June 21, 2017
Pansus Angket Temui Koruptor, F-PD: Jangan Sampai Intervensi Hukum
July 7, 2017

Penyerangan Polisi Di Masjid Falatehan Diduga Tak Terkait Teroris

 

“Kejahatan model seperti ini, yang dilakukan secara sendiri tanpa komando kelompoknya atau hanya sekedar simpatisan tanpa terkoneksi jaringannya secara langsung. Biasa disebut lone wolf,” ujar Didik kepada wartawan, Senin (3/7).

Kejahatan lone wolf, menurut politisi Partai Demokrat itu sangat bahaya dan tidak bisa terdeteksi, juga bisa meledak sewaktu-waktu. Hal itu tergantung emosional pribadi pelakunya.

“Bahkan korbannya pun bisa siapa saja yang saat itu dalam emosi negatifnya pelaku. Para pelaku terorisme yang lone wolf tersebut adalah seorang pribadi yang tidak bisa dilacak, tenggelam dalam obsesi pribadinya dan penuh dendam,” ujarnya.

Didik mengakui bahwa untuk mendeteksi sepak terjang kejahatan seperti ini tidaklah mudah. Kejadian di masjid dekat Mabes Polri itu merupakan contoh nyata yang harus diantisipisasi dan diwaspadai oleh Polri.

“Apabila kejahatan seperti ini berkembang maka akan sangat bahaya bagi keamananan masyarakat,” imbuhnya.

Sisi lain, tambahnya, kejadian itu merepresentasikan begitu dendamnya pelaku terhadap polisi. Tentu menjadi introspeksi mendalam bagi kepolisian atas apa yang dilakukan selama ini.

Bisa saja pelaku menganggap kepolisian sudah tidak netral lagi dalam berbagai kepentingan, dan mungkin bisa saja kepolisian dinilai tidak fair lagi dan melakukan keberpihakan kepada kelompok tertentu di masyarakat.

Untuk itu, Didik menghimbau agar polisi memperkuat posisi dan perannya sebagai alat negara dalam menghadirkan rasa nyaman dan aman bagi seluruh masyarakat. Polisi tidak boleh pandang bulu dan tebang pilih dalam menegakkan hukum.

Polisi harus tegak lurus pada keadilan dan bukan kepada kekuasaan atau kelompok. Polisi harus transparan, fair dan adil. Jangan membiarkan dirinya diintervensi oleh kekuasaan atau kekuatan kelompok tertentu yang ingin mengadu domba anak bangsa. Polisi juga jangan ikut arus pergerakan dan persepsi yang dibangun segelintir orang.

“Dengan cara tetap obyektif dan tidak membiarkan kepolisian menjadi alat kekuasaan, maka salah satu cara untuk meredam dan menghindarkan dari kebencian. Polisi harus menjadi pengayom seluruh masyarakat,” demikian Didik Mukrianto.

Sumber

X
Skip to toolbar