Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo, Prajurit Sejati yang Demokratis

Keutamaan Puasa Sunnah 9 Dzulhijjah
October 13, 2013
Keutamaan Qurban, berbagi dengan sesama
October 14, 2013

Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo, Prajurit Sejati yang Demokratis

Pramono Edhie Wibowo-Capres Konvensi PD

Almarhum Letjen TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo tentu sangat bersyukur dengan prestasi Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo, salah satu puteranya. Berjiwa  profesional sebagai seorang militer sejati, Edhie (panggilan Pramono Edhie Wibowo) akhirnya meraih kepangkatan militer tertinggi: jenderal bintang  empat.

Pramono Edhie Wibowo

Pramono Edhie Wibowo

Setelah mengalami begitu banyak penugasan  termasuk di satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan Komando Strategis Cadangan  Angkatan Darat (Kostrad), Edhie akhirnya mengakhiri kiprah militernya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat  (Kasad).

Selepas purnawirawan sebagai prajurit, Edhie yang low profile, tegas, dan demokratis membaktikan diri sebagai  kader Partai Demokrat.  Ia didaulat menjadi salah satu Anggota Dewan Pembina akhir Juni 2013.

Melihat kapasitas Edhie sebagai tokoh nasional, web demokrat mengajukan permintaan wawancara agar para  kader lebih mengenal sosok yang banyak menghabiskan karier militer di Kopassus ini. Beruntung, karena di tengah kesibukannya yang padat, Edhie menyempatkan waktu menerima permintaan wawancara di kediaman pribadinya,  Puri Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/9) sekitar pukul 09.00.

Dalam wawancara yang berlangsung santai itu, Edhie mengisahkan secara ringkas tentang dirinya semasa kecil hingga mengapa ia memutuskan masuk Partai Demokrat yang tengah menghadapi gelombang  dahsyat.

Edhie Wibowo menyatakan, ayahnya (alm Sarwo Edhie) adalah sosok yang pertama kali mengajarkan demokrasi kepadanya. Edhie masih sangat mengingat ketika ayahnya meminta seluruh keluarga untuk makan malam bersama setiap hari, bila  tidak ada kegiatan khusus. Makan malam bersama adalah sebuah kewajiban.

“Setiap malam, kami duduk  bersama dalam satu meja, mulai dari ayah; ibu; dan anak-anak,” Edhie mengenang.

Perbincangan di meja makan itu sesungguhnya bukan sekadar menjaga keharmonisan keluarga tetapi sebuah pembelajaran penting tentang demokrasi.  Saat duduk semeja itu, alm Sarwo Edhie memberi kesempatan kepada seluruh putra-putrinya untuk menanyakan apa saja.

Keluarga sederhana itu akan membahas masalah politik, ekonomi, sosial budaya dan lainnya.   Siapa saja boleh bertanya, dan sang ayah akan menjawab dengan sungguh-sungguh apa yang ia ketahui; apa yang sebenarnya terjadi.

Kenangan lain bersama sang ayah yang menjadi legenda TNI, Edhie beruntung karena ayahnya adalah seseorang yang sangat menghargai apa pun cita-cita putra-putrinya. Mereka diberi kebebasan meski tentu dengan berbagai bimbingan.

Suatu hari, saat masih SMA, Edhie ditanya sang ayah, ke manakah ia akan melanjutkan pendidikan? Saat itu Edhie memiliki beberapa alternatif untuk melanjutkan sekolahnya.

Sang ayah kemudian mengatakan, Edhie boleh untuk  melanjutkan ke mana saja, tetapi sang ayah juga mengingatkan, jika Edhie bisa melanjutkan pendidikan dengan beasiswa (terutama dari negara) tentu pendidikannya akan lebih lancar. Sang ayah khawatir jika sampai gagal membiayai pendidikan Edhie hingga selesai karena hal itu akan berdampak pada masa depan Edhie.

Pesan sang ayah diingat betul oleh Edhie. Ia kemudian berjuang untuk melanjutkan pendidikan dengan beasiswa penuh. Setelah berusaha keras, Edhie akhirnya tertarik untuk melanjutkan pendidikan di dua lembaga. Pertama adalah akademi militer (saat itu disebut Akabri/Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang dibiayai penuh oleh negara dan yang kedua Sekolah Penerbangan Curug yang mendapat beasiswa dari maskapai Garuda.

Setelah berdiskusi dengan sang ayah, pada akhirnya, Edhie memutuskan untuk mendaftar di Akabri sebagai pilihan pertamanya.  Edhie memilih masuk Akabri karena sebagai putra seorang prajurit, ia sangat mengenal kehidupan tentara. Ia merasa tidak akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Terkait pilihan keduanya,  Edhie berminat menjadi pilot karena ingin keliling dunia.

Pada akhirnya kedua keinginan itu bisa didapatkan Edhie. Ia menjadi tentara bahkan mencapai  pangkat tertinggi, jenderal bintang empat,  dan bisa keliling dunia.

“Keduanya saya dapatkan. Walaupun saya memilih karier militer tapi kesempatan keliling dunia juga tetap saya dapatkan saat mengikuti  pendidikan atau latihan bersama negara-negara sahabat,” kata Edhie mengungkapkan kebahagiaannya.

Edhie Wibowo lulus dari Akabri pada tahun 1980, dengan predikat  mengagumkan, lulusan terbaik kedua. Ia pun segera memulai karier militernya dengan tekad bulat menjadi prajurit sejati. Ia tidak pernah mau membicarakan politik. Sejarah membuktikan selama 33 tahun pengabdiannya di TNI, ia adalah  seorang militer profesional.

“Sebetulnya,  filosofi ini juga saya dapatkan dari ayah saya. Pada saat saya mulai menjalani pendidikan di kemiliteran, ayah saya berpesan , ‘Andai engkau menjadi tentara; jadilah tentara yang baik. Andai engkau menjadi letnan; jadilah letnan yang baik. Jangan memikirkan yang lain’. Bahkan ada prinsip dari  beliau yang saya pakai sampai sekarang, ‘Andai engkau menjadi komandan kompi perbaikilah kompi itu dengan baik atau sempurnakanlah kompi yang kau pimpin itu dengan baik. Tetapi  jangan sekali -kali mengoreksi batalion atau satuan yang di atasnya’.

“Artinya, saya tidak boleh melakukan kegiatan lain di luar batas tugas kemiliteran, bahkan pemikiran pun tidak boleh sampai ke sana. Saya diharapkan bisa fokus sesuai dengan pangkat dan jabatan yang saya emban. Oleh sebab itu, selama pengabdian, saya memang tidak mau bersinggungan dengan politik karena saya ingin mencurahkan segala pemikiran, tenaga saya, sesuai dengan jabatan saya sampai dengan selesai,” Edhie Wibowo, ayah dari dua anak, memaparkan.

Tentu saja sebagai seorang perwira militer yang  cerdas, Edhie Wibowo mengetahui dunia perpolitikan dan dituntut untuk  belajar politik. Tetapi sebagai militer profesional tidak sekali pun pengetahuan itu ia sampaikan.  Edhie bahkan menghindari pertanyaan-pertanyaan terkait dunia politik.

Padahal Edhie bukan sekadar tahu dunia politik. Ia memahaminya dengan baik. Edhie tercatat pernah menjadi ajudan Megawati, Presiden Kelima RI. Edhie juga mengetahui ketika kakaknya (Susilo  Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono) mendirikan Partai Demokrat. Tetapi ia hanya melihat saja.

Di lingkungan keluarga besar alm Sarwo Edhie memang ada peraturan tidak  tertulis. Jika ada pembicaraan mengenai politik maka seluruh  keluarga yang bertugas di militer secara otomatis harus meninggalkan tempat. Sebaliknya  jika ada pembicaraan mengenai militer maka siapa pun yang tidak terkait militer harus meninggalkan tempat.

Berjalan di atas rel militer profesional terus dipegang teguh oleh Edhie hingga ia ditunjuk menjadi Kasad.  Setelah pelantikannya, Edhie segera menyampaikan  kepada seluruh anggota TNI-AD untuk menjadi tentara yang dicintai rakyat.

“Kekuatan TNI-AD, sampai kapan pun, menjadi luar biasa kalau dia bersama rakyat. Kalau TNI-AD tidak bersama-sama rakyat maka kekuatannya hilang.  Oleh sebab itu, jangan sekali-kali para prajurit TNI-AD menyakiti hati rakyat. Itu menjadi kelemahan yang luar biasa. Saya selalu menyampaikan, jadilah tentara yang dicintai rakyat,” kata Edhie Wibowo mengenang masa ketika ia memimpin Kesatuan TNI-AD.

Selama menjadi Kasad, Edhie selalu menyampaikan pada prajuritnya  agar memiliki  filosofi ‘hidup seperti lilin’. Nyalanya bisa dinikmati pada saat gelap, apinya juga membawa kehangatan. Edhie berharap para prajurit harus menjadi penerang di kegelapan dan menjadi penghangat bagi masyarakat.

Pada 23 Mei 2013, Jenderal TNI Pramono Edhie menyerahkan jabatan Kasad kepada Jenderal  TNI Moeldoko (kini Panglima TNI).  Ia pun resmi mengakhiri karier militernya  yang cemerlang.

Jiwa prajurit tak pernah berhenti untuk mengabdi bagi bumi pertiwi. Demikian juga yang dialami Edhie Wibowo.

Melihat  dinamika di dunia politik, Edhie tanpa ragu memutuskan masuk ke Partai Demokrat yang tengah dihantam gelombang besar. Partai berasas Pancasila, berideologi nasionalis-religius yang ia ketahui persis sejarahnya memang tengah menjadi bulan-bulanan opini negatif dari berbagai pihak.

“Justru itu yang menarik bagi saya. Itu menjadi tantangan bagi saya untuk kembali membesarkannya,” kata Edhie Wibowo saat ditanya mengapa mau masuk Partai Demokrat yang tengah dihantam gelombang hebat.

Edhie lantas mengingatkan, pada saat Partai Demokrat dibentuk SBY (kini Ketua Umum Partai Demokrat), sesungguhnya partai berfatsun politik cerdas, bersih, santun ini hanya menargetkan 3 persen suara pada Pemilu 2004.  Sekadar lolos ambang batas parlemen. Faktanya, Partai Demokrat mendulang  7,5 persen suara, jauh melampui target. Partai Demokrat bahkan mampu mengantar SBY menjadi Presiden RI.

Pada Pemilu 2009, SBY hanya mengharapkan Partai Demokrat meraih 15 persen suara,  tapi akhirnya malah mendapat 21 persen suara.  Hingga menjadi satu-satunya partai yang berhak mengajukan capres tanpa berkoalisi. Keberhasilan itu digenapi dengan terpilihnya SBY sebagai Presiden RI periode 2009-2014 hanya dalam pemilihan satu putaran.

Kini di akhir pengabdian SBY sebagai Presiden RI, terjadi penurunan yang cukup drastis. Bahkan sebelum SBY turun tangan menjadi ketua umum, dalam sebuah survei, elektabilitas  Partai Demokrat diperkirakan hanya 8 persen.

Edhie Wibowo merasa, Partai Demokrat perlu perhatian besar dari orang-orang yang mencintainya. Ia berharap, dengan bergabung menjadi anggota Partai Demokrat maka ia  mampu terlibat penuh untuk kembali membesarkan partai berlambang bintang segitiga merah putih. Edhie sangat optimistis dengan perjuangan keras para kader maka elektabilitas Partai Demokrat akan kembali pulih.

“Saya memiliki harapan, dengan segala upaya, bersama yang lain, Partai Demnkrat  kembali menjadi partai terbesar. Partai Demokrat adalah partai yang baik. Partai  Demokrat dibentuk Pak SBY  dengan tujuan baik.  Jika kini elektabilitasnya menjadi turun, ini menantang saya untuk bergabung dan membangun bersama kader-kader yang lain,” Edhie Wibowo menjelaskan.

Langkah kaki Edhie Wibowo memang mengayun cepat. Setelah resmi menjadi kader Partai Demokrat,  sosok yang ramah dan orator andal ini segera berkeliling Nusantara. Ia menjalin komunikasi intensif dengan para kader Partai Demokrat se-Indonesia.

Dari penelusurannya mengelilingi Nusantara, Edhie Wibowo memahami, rakyat   masih mempunyai pandangan yang baik terhadap Partai Demokrat. Rakyat masih mencintai Partai Demokrat.

“Tentu Partai Demokrat akan besar kembali andai kader-kadernya semakin dekat dengan konstituen. Para kader perlu terus-menerus menyampaikan apa saja capaian atau keberhasilan yang sudah dilakukan oleh putra terbaik Partai Demokrat yang menjadi Presiden RI, Pak SBY. Terkadang hal baik yang dilakukan oleh Pak SBY sebagai Presiden RI tidak diinformasikan secara jujur oleh media cetak ataupun elektronik. Rakyat disuguhi hal-hal negatif, dimuat berkali-kali. Sebaliknya banyak hal yang positif tidak pernah dimuat dan diinformasikan. Nah, saya sampaikan kepada kader, mari kita sama-sama semakin beraktifitas menyampaikan apa segi positif yang dilakukan Pak SBY, putra Partai Demokrat,” Edhie Wibowo mengajak para kader menyampaikan capaian Pemerintahan Presiden SBY.

Pada Safari Ramadan Partai Demokrat 2013, Edhie Wibowo juga mengelilingi Nusantara. Ia, dalam kapasitas sebagai Anggota Dewan Pembina PD, bersama Sekjen  DPP-PD Edhie Baskoro Yudhoyono, Direktur Eksekutif DPP-P Toto Riyanto, Kadiv Logistik DPP-PD Sartono Hutomo dan kader utama lainnya menyapa serta langsung menyentuh hati para kader dan masyarakat se-Indonesia.

“Kami melakukan sentuhan secara langsung dan kegiatan langsung kepada masyarakat. Kami jelaskan   apa yang pernah atau sudah diperbuat  Partai Demokrat. Hal ini  perlu kami informasikan secara langsung karena banyak yang tidak diinfokan media,” Edhie Wibowo menerangkan.

Hal lainnya, Edhie Wibowo dan para kader utama menginformasikan prestasi dan capaian Partai Demokrat, termasuk  keberhasilan Presiden SBY (kader utama PD) dalam memimpin negara.

Edhie menegaskan, para kader di pusat dan daerah harus terus menjalin komunikasi intensif dan berkesinambungan. Dengan demikian  informasi apa pun dapat langsung diketahui  termasuk mendapatkan masukan-masukan yang positif untuk semakin membesarkan Partai Demokrat.

Di ujung wawancara, Edhie Wibowo  mengapresiasi gagasan cemerlang SBY tentang Konvensi Capres Partai Demokrat yang semi terbuka.

“Ini bagus karena memberi pendidikan politik kepada rakyat secara luas,” kata Edhie Wibowo yang juga menjadi satu dari 11 kandidat Capres Partai Demokrat.

Edhie mengatakan, konvensi yang semi terbuka ini memberi ruang kepada rakyat untuk menunjuk capres yang mereka kehendaki. Konvensi juga memberi kesempatan berkompetisi secara fair kepada para kandidat.

Jarum jam menunjuk angka 10 ketika wawancara berakhir. Web demokrat berpamitan karena Edhie Wibowo masih memiliki banyak agenda lainnya. Sembari tersenyum Edhie Wibowo segera mengiyakan saat web demokrat meminta foto bersama.

Keramahan dan kebersahajaan memang menjadi tipikal lainnya dari Pramono Edhie Wibowo, purnawirawan jenderal yang dikenal tegas dan demokratis. Ketegasan, kerakyatan, keramahan, dan kebersahajaan prajurit sejati bertubuh ramping ini pasti diperlukan Partai Demokrat memulihkan elektabilitasnya.

 

Profil
Nama               : Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo
Profesi             : Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat
Tempat Lahir  : Magelang, Jawa Tengah
Tanggal Lahir : Kamis, 5 Mei 1955
Istri                   : Kiki Gayatri Soepono
Karier Militer
Komandan Peleton Grup I Kopassandha (1980).
Perwira Operasi Grup I Kopassandha (1981).
Komandan Kompi 112/11 Grup I Kopassandha (1984).
Perwira Intel Operasi Grup I Kopassus (1986).
Komandan Batalyon 11/1 Kopassus (1995).
Wakil Komandan Grup I/Kopassus (1996).
Komandan Grup I/Kopassus (1998).
Ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri (2001).
Staf Ahli Bidang Ekonomi Politik Sesko TNI.
Wakil Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus.
Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) IV/Diponegoro.
Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus.
Panglima Komando Daerah Militer(Pangdam) III/Siliwangi.
Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD (Pangkostrad).
Kepala Staf Angkatan Darat.
Pendidikan Militer
Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) – 1980.
Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Sesko AD) – 1995.
Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI) – 2001.

Sumber : http://www.demokrat.or.id/2013/09/jenderal-tni-purn-pramono-edhie-wibowo-prajurit-sejati-yang-demokratis/

X