Bu Yul Meninggal, Demokrat Nilai Pemerintah Tidak Peka Terhadap Rakyat

Marak Aksi Residivis, Komisi III DPR Minta Menkumham Evaluasi Pembebasan Napi
April 21, 2020
Politisi Partai Demokrat ini tolak Perppu 1/2020 karena inkonstitusional
April 28, 2020

Bu Yul Meninggal, Demokrat Nilai Pemerintah Tidak Peka Terhadap Rakyat

Merdeka.com – Yuli, warga Kelurahan Lontarbaru, Kecamatan Serang, Banten kelaparan dan meninggal di tengah pandemi Covid-19. Anggota DPR RI Fraksi Demokrat, Didik Mukrianto, sangat prihatin dengan kejadian tersebut.

“Innalillahi Wainalillahi Roji’un. Turut berduka cita sedalam-dalamnya. Semoga Almarhumah Cusnul Chotimah. Amat sangat memprihatinkan,” kata Didik lewat keterangannya kepada merdeka.com, Selasa (21/4).

Didik amat prihatin, di tengah-tengah pemerintah mempunyai ambisi besar untuk mengerjakan proyek-proyek infrastruktur yang ambisius dan mercu suar, ternyata masih ada masyarakatnya yang meninggal karena kelaparan. Apalagi posisi hidupnya di dekat Ibu Kota.

“Seandainya ini benar karena kelaparan, jangan disalahkan jika anggapan bahwa pemerintah tidak aware dan tidak peka, serta abai terhadap permasalahan sosial yang dihadapi warganya,” ucapnya.

Menurutnya, pemerintah daerah tersebut juga harus ikut bertanggung jawab atas meninggalnya Yuli. Didik mengatakan, secara konstitusi negara abai terhadap kewajibannya untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 UUD 1945.

“Di saat-saat seperti saat ini negara harus hadir, pemerintah harus menolong kesusahan rakyat. Di saat masa sulit seperti sekarang ini, seharusnya pemerintah memastikan rakyatnya tidak susah. Biarlah pemerintah yang menanggung susahnya,” tuturnya.

Untuk itu, kata dia, pemerintah harus mengambil pembelajaran berharga agar tidak terjadi di tempat lain. Dia menuturkan, akibat corona ini rakyat susah makan karena akses penghasilan dan kesempatan kerjanya hilang.

Maka dari itu, pemerintah harus pastikan tepat sasaran, tepat waktu dan tepat jumlah dengan bantuan sosial yang dilakukan. Jangan sampai ada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab mengkorupsi bantuan tersebut.

“Libatkan aparat penegak hukum dan masyarakat untuk melakukan pengawasan. Pastikan tidak ada KKN dalam pendataan dan penyalurannya, karena KKN itu pintu awal masuknya korupsi,” tuturnya.

Yuli, warga Kelurahan Lontarbaru, Kecamatan Serang, Banten sempat ramai diberitakan tidak makan dua hari dan hanya minum air galon karena imbas dari sulitnya perekonomian di tengah pandemi corona dikabarkan meninggal dunia, Senin (20/4).

Camat Serang, Tb. Yassin membenarkan kabar tersebut. Dia mengatakan, Yuli dinyatakan meninggal pada pukul 15.30 WIB. “Infonya saya dari Pak Lurah, melalui telepon. Saya setengah empat ke lokasi (rumah almarhum),” ujarnya.

Yasin mengaku belum tahu pasti penyebab meninggalnya salah satu warga Kota Serang tersebut. Namun dia mendapatkan informasi, Yuli meninggal saat akan dibawa menuju Puskesmas Singandaru.1 dari 2 halaman

Diduga Serangan Jantung

Sementara itu, Juru bicara gugus tugas Covid 19 Kota Serang W Hari Pamungkas mengatakan penyebab meninggalnya Yuli karena diduga serangan jantung, bukan kelaparan.

“Visum resmi besok akan disampaikan, saya pastikan bukan terkait sama Covid, bukan karena kelaparan, tapi karena serangan jantung. Yang bersangkutan dapat pertanyaan berat dari orang sekelilingnya. Visum resmi akan disampaikan Puskesmas besok, tapi saya tanya dokternya diduga jantung,” katanya, Senin, (20/04).

Hari mengungkapkan, dari laporan yang diterima pihaknya dari pemerintah setempat, almarhum berasal dari keluarga yang mampu dan bisa untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

“Kesehariannya dari laporan aparat wilayah setempat berasal dari keluarga mampu semuanya, artinya untuk beli rokok sama nasi tuh masih sanggup,” ujarnya.

Hari mengatakan bahwa keluarga almarhum masuk dalam status Jaring Pengaman Sosial (JPS) Kota Serang dan Pemerintah Kota (Pemkot) Serang sudah memberikan bantuan sembako pada tanggal 18 April 2020, Sebagai bentuk pertanggungjawaban.

“Bantuan telah diberikan dan setelah dicek termasuk dalam pendataan JPS. Artinya dalam sisi tanggungjawab pemerintah Kami gerak cepat untuk menyelesaikan permasalahan itu,” katanya.2 dari 2 halaman

Minum Air Galon Isi Ulang

Sebelumnya, Ibu Yuli kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan selama dua hari, Yuli dan keempat anaknya tidak bisa makan. Untuk menahan rasa laparnya, ia bersama keluarganya hanya minum air galon isi ulang.

“Dua hari ini kami cuma minum air galon isi ulang. Anak-anak bilang lapar juga, paling minum air saja,” katanya saat ditemui, Jumat (17/4).

Ia mengaku sempat mengadu kepada Rukun Tetangga (RT) setempat untuk meminta bantuan sembako. Namun pihak aparatur pemerintah tersebut menyatakan belum menerima ada bantuan.

“Saya sudah datang ke RT. Katanya enggak bisa dapat bantuan,” ungkapnya.

Untuk menyambung hidup, sang suami kerap mencari barang bekas, yang bisa membawa uang ke rumah kisaran Rp25-Rp30 ribu.

“Lumayan saja, satu hari kadang dapat Rp25-30 ribu. Beli beras satu liter untuk kami berenam, itu pun diirit-irit,” ujarnya.

Sebelum ada virus Corona, kehidupan Yuli terbantu oleh anak sulung yang telah bekerja. Saat ini, harapan itu musnah lantaran anaknya sudah tidak bekerja karena dirumahkan pihak perusahaan.

“Tadinya anak saya kerja. Sekarang dirumahkan karena tempat kerjanya tutup. Tambah, gaji terakhir tidak diberikan,” tuturnya.

(mdk/lia)

https://m.merdeka.com/peristiwa/bu-yul-meninggal-demokrat-nilai-pemerintah-tidak-peka-terhadap-rakyat.html

X
Skip to toolbar