Terima Kasih, Pak SBY: Bapak Demokrasi Indonesia, Pemimpin Transformatif yang Pro-Rakyat dan Mendunia

Jaga Republik Indonesia, Presiden SBY Berdayakan Panser Tangguh ‘Anoa’
October 14, 2014
Transisi SBY ke Jokowi Akan Jadi Sejarah Baru
October 21, 2014

Terima Kasih, Pak SBY: Bapak Demokrasi Indonesia, Pemimpin Transformatif yang Pro-Rakyat dan Mendunia

DM1-Copy-e1413526124546Oleh : Didik Mukrianto SH*)

Tanggal 20 Oktober 2014, Bangsa Indonesia akan melaksanakan prosesi kepemimpinan nasional. Peristiwa ini, adalah kali pertama dalam sejarah demokrasi Indonesia, terjadi pergantian kepemimpinan dengan demokratis dan lancar. Perlu kita ketahui sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingga kini, Pemerintahan Indonesia telah mengalami enam kali peralihan kekuasaan. Sayangnya, belum pernah sekali pun transisi presiden berlangsung secara “mulus”. Selalu ada peristiwa tak menyenangkan yang melatarbelakangi suksesi kepemimpinan nasional.

Terkait hal itu, Presiden Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berjanji akan menyukseskan peralihan kepemimpinan secara terhormat. Sebuah tradisi suksesi kepemimpinan telah dirancang. Presiden SBY juga akan menyiapkan upacara penghormatan untuk menyambut presiden yang baru nanti. Peralihan kekuasaan dari Presiden SBY ke Jokowi akan menjadi sejarah baru bagi Indonesia.

Selanjutnya, mencermati perjalanan Pemerintahan SBY yang telah berjalan sepuluh tahun (satu dekade), berbagai kemajuan telah dicapai di berbagai bidang. Antara lain di sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hukum, HAM, lingkungan hidup, budaya, pertahanan dan keamanan, politik, dan aspek-aspek lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tentu saja, sepuluh tahun merupakan waktu yang tidak lama untuk mewujudkan Indonesia yang dicita-citakan dalam pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) Tahun 1945 dengan segala persoalan-persoalan bangsa yang sangat kompleks dan dinamis, mengingat bangsa Indonesia merupakan bangsa yang mempunyai corak keragaman suku, budaya, agama, dan etnis yang sangat majemuk, dan sistem demokrasi khas Indonesia.

Kurun waktu sepuluh tahun memimpin Bangsa Indonesia, tentulah Pemerintahan SBY masih memiliki kekurangan dan kekhilafan. Begitupun sudah sepatutnya, sebagai anak bangsa, kita memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya bagi SBY yang telah memimpin bangsa Indonesia dengan setulus hati. Capaian yang positif akan senantiasa dikenang dalam hati rakyat Indonesia.

Sepuluh Tahun Memimpin Indonesia

Secara dejure masa tugas Presiden Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan selesai pada 20 Oktober 2014. Sebagai Presiden RI yang dipilih dua periode dan dengan didampingi dua Wakil Presiden, Muhammad Jusuf Kalla dan Prof. Dr. Boediono, M.Ec, telah menorehkan prestasi dan karya emas bagi kemajuan pembangunan Indonesia.

Untuk menyegarkan kembali ingatan kita, Dalam satu dasawarsa terakhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di tengah berbagai tantangan, telah banyak menghasilkan banyak capaian, baik itu di bidang ekonomi, infrastruktur, penegakan hukum dan lain sebagainya. Salah satunya adalah angka Produk Domestik Bruto (PDB) yang terus meningkat, pada tahun 2014 ini mencapai Rp 9,084 triliun. Sementara cadangan devisa mencapai 124,6 miliar dolar AS. Adapun rasio utang pemerintah terhadap PDB mengalami penurunan hampir 60 persen dari tahun-tahun sebelumnya, dan sekarang menjadi 23 persen. Rasio utang terhadap PDB Indonesia ini berada pada urutan paling rendah dibanding Tiongkok, Italia, Inggris, AS, dan Jerman.

Pencapaian lainnya adalah rasio utang luar negeri yang terus menurun 70 persen lebih, dari 27,8 persen menjadi 7,8 persen. APBN kita juga meningkat empat kali lipat. Pendapatan per kapita selama 10 tahun terakhir meroket tajam menjadi 3.049,1 dolar AS. Di antara negara-negara G20, Indonesia berada pada urutan kedua setelah Tiongkok.

Dari segi penanggulangan kemiskinan, sebanyak 5,23 persen penduduk Indonesia keluar dari kemiskinan, sehingga sekarang angka kemiskinan berada pada angka 11,47 persen. Perlindungan sosial terhadap warga miskin seperti Raskin dan BLSM. Kemudian, 3,6 persen penduduk Indonesia sudah keluar dari pengangguran, dan sekarang berkisar di angka 6,3 persen. ekspor naik hampir tiga kali lipat. Peningkatan anggaran pendidikan lebih dari 20 persen.

Dari sisi kesehatan nasional, sampai saat ini sudah ada 76 ribu dokter, jumlah tersebut masih terus ditingkatkan oleh pemerintah. Sementara itu, untuk pasokan listrik, saat ini Indonesia mempunyai daya 25 ribu megawatt. Dalam 10 tahun terakhir terus bertambah dan dalam beberapa bulan lagi akan menjadi 50 ribu megawatt. Untuk percepatan pembangunan, telah ada program MP3EI yang bernilai Rp 828,7 triliun dengan 365 proyek.

Guna meningkatkan transportasi, jumlah anggaran meningkat delapan kali lipat. Pembangunan ruas jalan terus bertambah dengan jumlah total pada 2013 mencapai 501.969 km. Terdapat pula penambahan kereta api sebanyak 633 unit, 90 unit kapal penyeberangan, dan jumlah pesawat meningkat tiga kali lipat.

Bidang perumahan rakyat, jumlah rumah layak huni bertambah secara signifikan dengan sekitar 800 ribu rumah. Bidang pariwisata, wisatawan mancanegara tumbuh 34 persen. Bidang kerja sama internasional, Indonesia menganut prinsip ‘billion friends and zero enemy’, dan kemudian dikembangkan dalam strategic partnership dancomprehensive partnership. Hampir semua negara super power pada saat ini sudah menjadi mitra Indonesia. Dengan ini posisi Indonesia semakin mengemuka di dunia internasional.

Di bidang ketahanan, anggaran untuk TNI dan pertahanan negara mengalami peningkatan hampir 400 persen menjadi Rp 84,4 triliun. Untuk Polri dan kamtibmas, anggaran meningkat empat kali lipat menjadi Rp 47.232 triliun, dengan jumlah personel 400-an ribu orang.

Untuk misi perdamaian dunia, pengiriman pasukan juga mengalami peningkatan secara signifikan. Kontribusi Indonesia dalam perdamaian dunia saat ini berada di posisi 17 dunia, dengan target bisa mencapai 10 besar dunia. Dalam hal kebijakan pemberantasan korupsi yang tanpa pandang bulu dan agresif, hasilnya juga nyata. Selain itu, upaya pelestarian lingkungan juga dilakukan pemerintah melalui program 1 miliar pohon per tahun.

Telah kita ketahui bahwa pada awal tahun 2004, perekonomian Indonesia sangat rendah. GDP juga rendah, mengakibatkan pertumbuhan ekonomi rendah, dan utang pemerintah kepada IMF sebesar Rp 69 triliun. Kemudian, sanksi dan embargo juga masih ada. Di bidang kesejahteraan rakyat, kemiskinan masih tinggi, gaji pegawai rendah, dan anggaran sumber daya pendidikan juga rendah.

Selama satu dasawarsa terakhir ini, pemerintah juga tidak pernah sepi dari tantangan, seperti adanya bencana tsunami, krisis harga minyak tahun 2005, 2008, dan 2011. Yang Lalu, kemudian ditambah dengan krisis keuangan global pada 2008-2009, serta tekanan ekonomi pada 2013, aksi terorisme dan wabah flu burung.

Dari capaian-capaian di atas merupakan pengejawantahan visi dan misi Presiden SBY dalam mewujudkan Indonesia yang bersatu, aman, damai, mandiri, sejahtera, makmur, menjunjung tinggi hukum dan HAM, serta meletakkan fondasi yang lebih kuat bagi Indonesia yang adil dan demokratis.

Atas capaian tersebut, tentu kita patut memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan semua pihak karena telah banyak yang dicapai di tengah tantangan itu walaupun masih banyak juga yang belum kita selesaikan.

Ada sebuah ungkapan yang dinyatakan oleh Leroy Eims; seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih banyak dari pada yang dilihat orang lain, melihat lebih jauh dari pada yang dilihat orang lain, dan melihat sebelum orang lain melihat. Ungkapan ini relevan dengan kepemimpinan SBY yang memimpin selama satu dekade.

SBY: Bapak Demokrasi Indonesia

Kita telah melewati masa transisi demokrasi selama puluhan tahun dari pergantian kepemimpinan Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono mengalami kemajuan kualitas berdemokrasi yang semakin baik.

Keran demorasi dibuka luas pada tahun 2004 dengan dimulai pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung, Kebebasan pers, penegakan hukum, partai politik yang semakin aspiratif, masyarakat sipil yang semakin mendapatkan tempat untuk berpartisipasi dalam perubahan arah bangsa ini menjadikan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Apalagi Indonesia juga merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Beberapa waktu yang lalu politik nasional Indonesia diwarnai langkah kebijakan DPR-RI yang menyetujui undang-undang yang memungkinkan pemilihan gubernur, wali kota, dan bupati dilakukan oleh perwakilan rakyat di DPRD. Presiden SBY secara tegas mengatakan menentang regulasi itu karena merupakan kemunduran demokrasi, khususnya setelah perjuangan yang melelahkan (saat reformasi) untuk mendorong pemilihan langsung. Dengan pemilihan langsung akan mendekatkan antara pemilih dan perwakilan mereka.

Meski dalam pemilihan langsung ada sejumlah ekses negatif yang terjadi, yang harus diperbaiki adalah sistemnya, bukan mengubah pemilihan langsung menjadi pemilihan tidak langsung. Oleh karena itu, SBY sudah mengambil sejumlah langkah, antara lain mengajukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang untuk mengubah UU Pilkada (Perppu Pilkada yang Dikeluarkan Presiden SBY).

Patut kita banggakan, SBY sebagai presiden yang berlatar militer ini ternyata lebih sipil dibanding orang sipil, dan lebih demokratis dibanding tokoh lainnya. SBY menjaga betul proses demokrasi yang berlangsung di Indonesia selama 10 tahun ini. Kebebasan berpendapat sangat terasa tanpa tekanan. Media massa sebagai salah satu fondasi demokrasi, malah bebas bergerak dan bersuara bahkan lebih lantang dibanding kebebasan pers di negara lain, bahkan di negara demokratis seperti Amerika sekalipun.

SBY tetap mendorong dan mengupayakan indepensi dan kemerdekaan Pers dari kepentingan politiknya. Jangan heran jika kemudian SBY dianugrahi sebagai sahabat pers oleh PWI dan Bapak Demokrasi Indonesia oleh DPP KNPI.

Pemimpin Transformatif, Pro-Rakyat dan Mendunia

James Mc Gregor Burns, seorang penulis “Buku Leadership” menyatakan, Kepemimpinan Transformational merupakan sebuah proses pada para pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Beberapa karakter pemimpin transformatif, Pertama, sosok ideal yang kehidupannya menjadi panutan bagi para pengikutnya. Kedua, stimulasi intlektual, mereka menstimulasi kreativitas di kalangan pengikutnya. Ketiga, ia adalah seorang motivator yang inspiratif, menyatakan visi yang jelas dan memberikan inspirasi kepada pengikutnya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merupakan presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat Indonesia yang mempunyai jumlah penduduk terbesar keempat sedunia dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa dan mempunyai berbagai macam etnis, suku, budaya, dan agama mempunyai amanah yang sangat besar dan menjadi strategis di kancah internasional. Oleh karena itu, dibutuhkan sosok pemimpin yang mampu mengarahkan dan menggerakkan Indonesia yang maju, berkualitas-bermartabat dan bisa bersaing secara sehat serta cerdas di tengah percaturan kehidupan global.

Sosok SBY yang santun, cerdas, dan bersih merupakan kepribadian yang teguh tidak mudah lumpuh dan rapuh dalam menghadapi permasalahan bangsa dari berbagai dinamika konflik yang kerap menyapa datang silih berganti. Dalam situasi seperti ini, pemimpin dituntut untuk memiliki kesabaran ekstra, stamina politik yang kuat, gigih, jernih dalam melihat persoalan. karena jika tidak, ia akan terhempas terjangan gelombang konflik dan hantaman arus politik transaksional.

Dalam konteks strategi pembangunan nasional, yang diterjemahkan dalam kebijakan-kebijakan SBY, senantiasa berlandaskan kepada kepentingan rakyat, terlebih untuk rakyat yang kurang mampu. Masih segar dalam ingatan kita, SBY berani mengambil sikap untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM), namun sebagai kompensasinya dipersiapkan program-program pro-rakyat yang menjadi imbas dari kebijakan tersebut. Salah satu contoh yang terkini adalah pemberlakuan program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada tahun 2014. Hal itu merupakan komitmen SBY untuk memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sangat berdasar dan beralasan kiranya Pak SBY disebut sebagai Pemimpin Transformational, Pro-Rakyat dan Mendunia dengan melihat sederatan prestasi, penghargaan yang diberikan oleh individu dan institusi internasioal atas keberhasilan beliau dalam membangun toleransi, menjaga persatuan dan kerukunan umat beragama, dan memimpin bangsa yang majemuk.

Dalam catatan sejarah ada tokoh-tokoh besar yang menggunakan gaya kepemimpinan ini, contohnya Abraham Lincoln (1809-1865) yang berjuang menyatukan Amerika Serikat saat perang saudara (1861-1865), demikian juga Mahatma Gandhi (1866-1948) yang memimpin perjuangan kemerdekaan India dari penjajahan Inggris melalui kampanye pertahanan pasif dan tidak bekerjasama dengan Inggris.

Begitulah kepemimpinan transformatif memiliki ketegasan visi sebagai prinsip hidup secara pribadi dan sekaligus bernegara. Atau dengan kata lain, memimpin dengan ideologi yang jelas, yaitu cerdas, tegas, dinamis, dan berani.

*)Sekretaris Fraksi Partai Demokrat DPR-RI

X