Kasus Penjual Es Kue Sudrajat, Aparat Diminta Terus Berbenah Jadi Pelindung Rakyat

DIDIKMUKRIANTO.COM, Jakarta – Politikus Partai Demokrat, Didik Mukrianto, menilai kasus yang menimpa penjual es kue bernama Sudrajat lantaran dicurigai dagangannya mengandung bahan spons di Kemayoran, Jakarta Pusat (Jakpus) bukan hanya sekedar kesalahan individu namun cermin kultur aparat yang harus benar-benar berbenah.
“Kasus penjual es kue jadul Bapak Sudrajat di Kemayoran yang viral baru-baru ini, mestinya dimaknai bukan sekadar kesalahan individu, tapi cermin kultur aparat yang harus terus berbenah agar benar-benar menjadi pelindung, bukan ancaman, bagi rakyat kecil,” kata Didik di akun X pribadi miliknya, Rabu,(28/1/2026).
Didik sangat menyayangkan, tindakan oknum aparat yang impulsif, menuduh tanpa verifikasi dan bukti ilmiah. Didiek menyebut, tindakan tersebut mencerminkan budaya cepat bertindak yang bisa mengabaikan prinsip presumption of innocence, terutama terhadap rakyat kecil.
“Saat berseragam dan bertindak di ruang publik, oknum merasa memiliki otoritas absolut. Ini warisan kultur superioritas yang membuat aparat seenaknya dan berpotensi melakukan abuse of power,” tegas dia.
Didik mengakui kurangnya empati dan sensitivitas terhadap pedagang kecil seperti penjual es kue bernama Sudraja juga dikhawatirkan semakin menimbulkan persepsi bahwa aparat lebih sering melindungi yang atas ketimbang menjadi pelayan masyarakat.
“Kurangnya empati dan sensitivitas terhadap pedagang kecil seperti kakek Sudrajat yang berjuang halal justru jadi korban trauma, kerugian ekonomi, & nama baik tercoreng, bisa menimbulkan persepsi adanya kultur yang menunjukkan aparat lebih sering melindungi “yang atas” daripada menjadi pelayan masyarakat, terutama di kalangan rentan,” imbuh dia.
Lebih lanjut, Didik mengatakan, permintaan maaf setelah kejadian viral juga bisa menjadi kritik terhadap kultur penegakan hukum di Indonesia yang reaktif, bukan proaktif, & sering hanya bergerak karena opini publik. Oleh sebab itu, kata dia, reformasi kultural Polri masih jauh dari sempurna. “Dalam konteks ini Polri harus terus berbenah secara sistemik dan berkelanjutan,” imbuh dia.
Didik menekankan, kegagalan reformasi kultural berkonsekuensi memperburuk krisis kepercayaan publik terhadap Polri, melahirkan budaya impunitas & korupsi, berdampak kepada stabilitas demokrasi dan keamanan negara.
“Kegagalan reformasi kultural bukan hanya anomali, tapi konsekuensi dari kurangnya komitmen jangka panjang, yang bisa menunda kemajuan Polri sebagai institusi modern,” pungkasnya.
Sebelumnya, seorang penjual es gabus, Sudrajat (50), dituduh aparat TNI dan Polri menjual produk yang mengandung bahan berbahaya seperti spons. Insiden tersebut terjadi saat ia berjualan di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (24/1/2026).
Sudrajat diduga mendapat perlakuan kasar dari aparat yang menuduhnya sampai mengaku kapok berjualan. Berikut fakta-fakta penjual es gabus dituduh jual produk berbahan spons. Sudrajat mengaku insiden bermula ketika seseorang yang diduga anggota polisi pura-pura membeli es kue darinya.
“Polisinya beli, lalu esnya diremas-remas dan dibilang ini es racun,” katanya, Selasa (27/1/2026). Ia mengatakan dirinya dipanggil dan dibawa ke sebuah pos bersama dagangan miliknya untuk diminta keterangan. “Saya dikepung lalu dipukul. Yang memukul polisi dan tentara,” ungkapnya.
Sudrajat mengaku membuka satu per satu es kue yang dibawanya untuk membuktikan dagangannya tidak terbuat dari spons atau bahan berbahaya. Namun, ia mengaku mendapat perlakuan kasar lagi.



