
DIDIKMUKRIANTO.COM, Jakarta – Format baru Pekan Olahraga Nasional (PON) kemungkinan bakal mengalami perubahan besar setelah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) menyepakati arah baru penyelenggaraan ajang olahraga terbesar Tanah Air.
Saat ditemui di Kantor Pengurus Besar Persatuan Rugby Indonesia di kawasan Senayan, Jum’at (5/12/2025), Ketua Umum Rugby Indonesia, Dr. Didik Mukrianto menyambut baik dan mendukung sepenuhnya. Menurutnya, kalau pemerintah benar-benar serius mengejar prestasi olahraga di level dunia, maka Olimpiade memang satu-satunya kasta tertinggi yang tidak bisa ditawar.
“Single Event dan Multi Event baik di tingkat nasional seperti Kejuaraan Nasional, di tingkat Regional dan Kawasan seperti SEA Games atau Asian Games sangat penting untuk disupport penuh oleh Pemerintah khususnya anggarannya”, tutur Didik.
Didik yakin, keputusan Menpora dan KONI untuk menjadikan PON sebagai “Olimpiade mini” mulai 2028 itu secara konsep sudah benar dan logis.
“Kunci utamanya, Pemerintah harus all-in secara finansial dan sistemik ke cabor-cabor Olimpiade. Artinya, Anggaran pelatnas jangka panjang harus disiapkan dengan serius, kecukupannya dijamin dan dikunci dalam APBN”, tegas Didik.
Didik juga berharap bahwa fasilitas latihan bertaraf internasional harus juga disiapkan. Gaji & bonus atlet, pelatih dan official harus kompetitif dg negara lain minimal ASEAN. Selain itu Program pencarian bakat dari daerah harus massive, bukan cuma di Pulau Jawa. Yang tidak kalah penting Science & technology support (sport science, recovery center, data analytics) harus jadi standar, bukan bonus.
“Saya yakin jika itu dilakukan, dalam 2–3 siklus Olimpiade (2032–2040) Indonesia sangat realistis bisa naik kelas signifikan”, kata Didik.
Lebih lanjut Didik menekankan, tanpa itu, PON cuma ganti baju jadi “Olimpiade mini” tapi hasilnya tetap medioker.
“Jadi kesimpulannya, keputusan merampingkan PON ke cabor Olimpiade menurut saya sudah tepat. Tapi nilai sebenarnya baru kelihatan di eksekusi anggaran dan komitmen jangka panjangnya”, lanjut Didik.
“Semoga pemerintah punya keberanian untuk melakukan investasi yang serius dan berani untuk mengunci sistemnya. Kalau iya, ini bisa jadi titik balik sejarah olahraga Indonesia”, pungkas Didik.



